Sinisme Mochtar Lubis Tentang Orang Indonesia

Posted : 12 May 2019 Informasi, Sejarah Last Updated : 12 May 2019


Sinisme Mochtar Lubis Tentang Orang Indonesia – Nama Mochtar Lubis mungkin asing di telinga sebagian orang, namun bagi yang bergelut di bidang jurnalisme nama ini seharusnya cukup familiar. Mochtar Lubis banyak menuliskan buku.

Sinisme Mochtar Lubis Tentang Orang Indonesia

Namun bukan buku yang ingin saya bahas. Tapi pernyataan beliau tentang sikap (kebanyakan) orang Indonesia yang menurut saya masih relevan sampai sekarang. Pada tanggal 6 April 1977 Mochtar Lubis naik ke atas podium memulai pidatonya di taman Ismail Marzuki. Beliau mengemukakan secara tajam pandanganya mengenai sifat-sifat khas dari orang Indonesia. Menurut Mochtar Lubis ada 6 sikap orang Indonesia yang khas, melekat dan cenderung sulit untuk di hilangkan.

Sifat-sifat itu di antaranya :

  1. Munafik atau hipokrit
  2. Enggan bertanggung jawab
  3. Bersikap feodal
  4. Percaya takhayul
  5. Artistik
  6. Berkarakter lemah

Jika kita melihat keadaan hari ini sepertinya sulit mengingkari jika sifat-sifat itu masih ada pada sebagian besar masyarakat kita. Pidato tersebut menuai pro dan kontra dari masyarakat.

Apalagi setelah pidatonya di bukukan menjadi sebuah buku berjudul Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungan Jawab). Namun Mochtar Lubis bergeming. Ia tetap teguh pada pendirian sinis-kritisnya dalam menanggapi tanggapan-tanggapan politik.

  1. Munafik atau hipokrit
    Sifat pertama adalah hipokrit atau munafik. Orang Indonesia gemar memasang sikap Asal Bapak Senang dan bermuka dua dalam kehidupanya.Jika dahulu Mochtar secara khusus menyentil kultur korupsi di Pertamina dan kelambatan tindakan hukum terhadapnya, maka kini kasusnya tidak banyak berubah.
  2. Enggan bertanggung jawab
    Sifat kedua yang sering muncul adalah sifat enggan bertanggung jawab. Sifat ini melekat dengan erat di masyarakat kita. Kalimat “Bukan saya..” menjadi kalimat yang umum di ucapkan saat ada perkara.
    Bahkan sering di ucapkan oleh orang / pihak yang seharusnya bertanggung jawab. Selain itu masyarakat kita juga cenderung berani (dalam konotasi negatif) jika ada teman atau sering kita sebut berani salah berjamaah.
  3. Bersikap feodal
    Kebanyakan masyarakat kita masih bersikap ingin di tinggikan. Misalnya para wakil rakyat yang selalu merasa ingin di hormati dan anti kritik, padahal mereka hanya pemegang mandat. Hal lain yang menjadi cermin dari sikap ini adalah banyak pos strategis yang di isi oleh orang yang tidak kompeten namun tetap di paksakan hanya karena alasan keluarga atau orang dekat.
    Atmosfer instansi riset dan pendidikan di Indonesia masih tidak sehat bagi mereka yang senang dengan kompetisi intelektual yang sportif. Banyak kasus proyek-proyek riset kerap dibagi-bagi atas dasar pertemanan bukan keahlian.
  4. Percaya takhayul
    Sifat ini juga sering terlihat di masyarakat kita. Banyak di antara masyarakat kita yang masih mempercayai takhayul entah takhayul tradisional seperti menyembah benda mati, melakukan ritual-ritual dan mengunjungi makam-makam dengan harapan mendapat berkah sampai takhayul modern seperti jargon-jargon politis seperti revolusi mental, nekolim, bedikari dan lain sebagaianya.
  5. Artistik
    Sifat ini memang terkait dengan kekayaan budaya Indonesia. Banyaknya budaya yang saling bercampur dan berpadu satu dengan yang lain.
  6. Berkarakter lemah
    Sifat inilah yang membuat masyarakat kita cenderung tidak berpikir jernih sehingga mudah terbawa arus dan terprovokasi. Kelemahan inilah yang membuat kolonialisme bercokol cukup lama di Nusantara. Karena orang-orang Indonesia mudah percaya dan di kelabuhi.
    Dan sampai sekarang sifat ini masih terlihat dengan jelas. Lihat saja berapa banyak orang yang percaya jika Prabowo tidak terpilih Indonesia akan bubar pada 2030 atau berapa banyak orang yang percaya Jokowi adalah satria piningit yang membawa Indonesia menjadi negara maju?

Sumber gambar :

wikipedia.org

Leave a reply